Jangan Ada Gadget Antara Kita

JANGAN ADA GADGET DI ANTARA KITA

Pernahkah Anda melihat satu keluarga tengah berkumpul dalam satu meja di sebuah restoran, tapi masing-masing anggota keluarga sibuk dengan gadget-nya? Tak ada suara riuh karena perbincangan, apalagi tawa. Yang terdengar ‘ramai’ hanyalah nada yang keluar dari perangkat elektronik tersebut, serta suara sendok yang menyentuh piring. Tak jauh beda, suasana “asyik sendiri” terjadi pula ketika di perjalanan. Di dalam mobil, yang mestinya diisi dengan perbincangan seru malah tergantikan dengan obrolan asyik di dunia maya. Tiada hari tanpa gadget.

‘Menjauhkan’ yang dekat

Contoh kehidupan di atas bisa jadi mirip dengan apa yang kita alami sehari-hari. Tak dipungkiri, rutinitas harian—apalagi yang berkaitan dengan urusan kantor—membuat kita bergantung dengan gadget. Dalam kondisi tertentu, tanggung jawab terhadap anak-anak terkadang menjadi tidak optimal, atau bahkan malah terabaikan. Misalnya, disela-sela menyuapi anak, kita masih saja melirik ponsel. Alhasil, waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mempererat ikatan (bonding) akhirnya tidak tercapai.

Dikutip dari Antara, perilaku tidak bisa lepas dari ponsel menurut The Halifax Insurance Digital Hime, telah memberikan perubahan hubungan berkeluarga. Hal ini terlihat dari hasil studi yang dilakukan terhadap 1.000 orang tua dan anak-anak berusia 7-17 tahun. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa lebih dari sepertiga dari anak-anak berkomunikasi dengan anggota keluarganya dengan menggunakan gadget meskipun berada dalam satu atap rumah yang sama. Sementara itu, sepertiga dari orang tua dan anak-anak menggunakan perangkat teknologi di meja makan. Dengan demikian tidak mengherankan bila kemudian muncul anggapan “teknologi telah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”.

Ingat dampak negatifnya

Tentu kita tidak bisa hanya menyalahkan kemajuan teknologi masa kini. Faktanya, kemampuan teknologi yang diadopsi oleh ponsel, tablet, notebook, komputer, televisi, dan sebagainya memang membantu nyaris di setiap lini kehidupan kita. Hanya saja, kita juga tidak boleh menutup mata akan efek negatif yang muncul dari keberadaan gadget, antara lain:

Seolah tinggal di alam ‘tidak nyata’

Karena teknologi, kehidupan seperti berpindah, dari alam nyata ke dunia virtual (maya). Hal ini tentu saja berpotensi merusak interaksi dengan anggota keluarga lain meski berada dalam satu ruang pada saat bersamaan. Patut diingat, komunikasi di dunia maya berbeda dengan komunikasi tatap muka. Merawat ikatan keluarga Sebelum hubungan dalam keluarga makin berjarak, ada baiknya kita melakukan antisipasi terhadap dampak penggunaan gadget. Hal ini bukan berarti harus ‘memusnahkan’ sama sekali teknologi dalam kehidupan kita, lho… tetapi manfaatkan sesuai porsi dan dalam batas kewajaran.

Hilangnya kebersamaan

Tidak sedikit dalam satu keluarga yang setiap anggota lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadgetnya. Lalu, bagaimana bisa menikmati kebersamaan jika dalam satu ruangan saja kita tidak saling bercengkerama?

Merasa asing di rumah sendiri

Sepulang dari kantor atau sekolah, tanpa basa-basi kita langsung masuk ke kamar, entah untuk istirahat ataupun ‘tenggelam’ dalam dunia maya. Lama kelamaan, kita akan merasa asing di rumah sendiri.

Memicu kepribadian impulsif

Dilansir di laman Tempo, anak yang sering menggunakan gadget cenderung akan berperilaku impulsif. Salah satu tandanya adalah anak sering gelisah dan harus segera dipenuhi setiap keinginannya.

Merawat ikatan keluarga

Sebelum hubungan dalam keluarga makin berjarak, ada baiknya kita melakukan antisipasi terhadap dampak penggunaan gadget. Hal ini bukan berarti harus ‘memusnahkan’ sama sekali teknologi dalam kehidupan kita, lho… tetapi manfaatkan sesuai porsi dan dalam batas kewajaran

• Gunakan pada waktu tertentu

Kuatkan tekad untuk ‘menyentuh’ gadget hanya pada waktu-waktu tertentu atau ada urusan yang mendesak. Minta kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak membawa ponsel atau tablet ketika makan bersama dan berkumpul di ruang keluarga.

Matikan notifikasi

Mematikan seluruh notifikasi pada ponsel pintar akan membantu Anda berkonsentrasi pada hal-hal lain yang lebih penting.

Jangan tinggalkan media cetak dan buku

Dengan alasan praktis, kita mengandalkan ponsel untuk menambah wawasan. Padahal, membaca informasi dari ponsel rentan gangguan dari berbagai aplikasi. Sebaliknya, jika Anda membaca media cetak dan buku, transfer pengetahuan menjadi lebih efektif sekaligus meminimalkan kecanduan akan ponsel.

Kegiatan bersama keluarga

Banyak hal yang bisa Anda lakukan bersama keluarga. Anda bisa ajak anak-anak ke dapur untuk memasak atau menyiapkan makan bersama, membantu anak mengerjakan PR, dan merapikan kamar. Pada hari libur, ajak anak untuk mencuci mobil bersama, merawat taman, membersihkan rumah, berolahraga bersama, dan pergi berlibur. Pastikan, seluruh kegiatan yang dilakukan terbebas dari keriuhan gadget.

* Artikel ini disadur dari Majalah Summarecon Serpong Volume 5.